AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM

Posted by Gustomo Try Budiharjo Minggu, 07 Oktober 2012 1 komentar

AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM




MAKALAH


Diajukan guna memenuhi tugas
Dalam mata kuliah Pengantar Usul Fiqh


Disusun oleh:

GUSTOMO TRY BUDIHARJO
NIM: 09380088/ MU-B


Dosen:

Abdul Mugiths



MUAMALAT
FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010 


Daftar isi
Pendahuluan                                                               2
Pembahasan
a)   Dalil-dalil Syar’iyah                                          3
b)   Alquran                                                              6
c)    Sunnah                                                               12
Penutup                                                                       17
Daftar Pustaka                                                           18
Pendahuluan

Sebagaimana kesepakatan seluruh ulama yang berbeda madzhab, bahwa seluruh tindakan manusia (ucapan, perbuatan dalam ibadah dan muamalah) terdapat hukum-hukumnya. Hukum-hukum tersebut sebagian telah dijelaskan di dalam nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Meskipun sebagian yang lain belum terdapat penjelasan, namun syari’at Islam telah memberikan dalil dan isyarat-isyarat tersebut.
Para imam  mazhab sepakat dengan dalil yang dikemukakan Imam Syafi’i dalam kitab al-Risalah yakni al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Pendapat tersebut benar adanyam namun al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan sumber hukum utama yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Tujuan mempelajari Ushul Fiqh ialah menerapkan kaidah-kaidah dan pembahasan dalil-dalil secara detail dalam  rangka melahirkan hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalil tersebut. Adapun dalam makalah ini lebih mengedepankan fungsi al-Qur’an dan as-Sunnah, karena selruh ulama ushul fiqh tidak pernah melepaskan peran keduanya. Adapun ijma’ dan sebagainya, disebagian ulama tidak menggunakannya. Hal ini karena keyakinan mereka bahwa tidak ada sumber melainkan dua sumber diatas
Hukum seluruhnya termaktub didalam al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai penjelas al-Qur’an. Maka dari itu penting sekali bagi umat muslim untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dalam perannya. Pada dasarnya kedua sumber inilah yang selalu diutamakan dalam mencari ketetapan hukum.
Makalah ini bertujuan memberi pemahaman dasar dan menjelaskan keunggulan keduanya. Seluruh ulama ushul fiqh sepakat bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus selalu diikut sertakan dalam penelaahannnya.


Pembahasan
Dalil-dalil Syar’iyah

A.    Definisi Dalil
Menurut istilah arab, dalil berarti “acuan bagi apa-apa yang bersifat material maupun spiritual, yang baik ataupun tidak baik”. Secara terminologi dalil mengandung pengertian “suatu petunjuk yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis, baik yang bersifat qath’i (pasti) maupun zhanni (relatif)”[1]
Dari definisi-definisi diatas ulama sepakat bahwa dalil-dalil dibagi dua menurut jenisnya:
1.      Dalil qath’i
2.      Dalil zhanni
B.     Dalil Syar’i Secara Ijmal
Berdasarkan penelitian yang memeperoleh kepastian, hukum-hukum Islam diambil dari empat sumber yaitu:
1.      Al-Qur’an
2.      As-Sunnah
3.      Ijma’
4.      Qiyas
Keempat dalil tersebut telah disepakati oleh jumhur umat islam sebagai dalil. Selanjutnya dalam mempergunakan dalil mereka juga sependapat bahwa dalil-dalil itu mempunyai urutan menurut susunan sebagia berikut:
Al-Qur’an
As-Sunnah
Ijma’
Qiyas
Maka apabila terjadi suatu peristiwa, maka pertama kali harus melihat di dalam al-Qur’an. Jikalau ditemukan hukum dalam al-Qur’an, maka hukum itu langsung dilaksanakan. Namun jika tidak ditemukan, maka dilihat dalam as-Sunnah. Jikalau ditemukan dalam as-Sunnah, maka hukum tersebut langsung dilaksanakan. Tetapi jika tidak ditemukan dalam as-Sunnah, maka  harus dilihat apakah para mujtahid dalam suatu masa pernah berijma; meneganai hukumnya atau tidak. Lanatas jika ditemukan, maka hukum itu dilaksankan, dan jika tidak ditemukan, maka orang harus berijtihad untuk menhsilkan hukmnya dengan cara menqiyaskannya dengan hukum yang telah da nashnya.
Adapun dalil terhadapa penggunaan dalil tersebut di atas ialah firman Allah SWT. Dalam surat an-Nisa’ sebagai berikut:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߧ9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqߧ9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ  
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S 4 : 59).

perintah untuk mentaaati Allah dan RasulNya merupakan perintah untuk mentaati al-Qur’an dan as-Sunnah, sedangkan perintah mentaati ulil amri adalah perintah untuk mentaati hukum yang telah disepakati oleh kalangan mujtahid, karena mereka sebenarnya adalah ulil amri kaum muslimin dalam persyariatan hukum Islam. Sementara perintah untuk mengembalikan kasus-kasus yang diperselisihkan diantara umat Islam kepada Allah dan Rasul merupakan perintah qiyas ktika tidak ada nash dan tidak ada ijma’. Adapun ururtan yang terdapat dalam ayat tersebut memeberikan indikasi bahwa al-Quran diutamakan dari pada yang lain, kemudian as-Sunnah lebi utama dari pada ijma dan qiyas, sedangkan ijma’ lebih utama dari qiyas, dan qiyas merupakan urutan terakhir.
Meskipun sudah menjadi ketetapan di dalam al-Qur’an bahwa ada empat landasan dalam menetapkan suatu hukum, bukan menutup kemungkinan ada yang berpendapat bahwa hanya dua unsur pertama yang menjadi sumber. Jadi, terlahirnya ijma’ dan qiyas berawal dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka dari itu pengetahuan terhadap keduanya haruslah benar-benar matang.


Al-Qur’an

A.    Keistimewan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui perantara oleh malaikat jibril ke dalam kalbu Rasulullah SAW dengan bahasa Arab dan disertai dengan kebenaran agar dijadikan hjjah (argumentasi) dalam hak pengakuannya sebagai Rasul, dan agar dijadikan sebagai dustur (undang-undang) bagi seluruh umat manusia. Di samping itu membaca al-Qur’an juga merupakan  ibadah.
Al-Qur’an disusun dari lembaran mushaf yang dimulai dari surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas, yang diriwayatkan secara mutawatir, baik secara tulisan maupun lisan dari generasi ke generasi. Hal ini dibuktikan Allah dalam firmanNya :
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ  
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[2]

Diantara keistimewaan al-Qur’an adalah bahwa lafadz dan maknannya berasal dari Allah. Lafazh al-Qur’an berbahasa Arab itulah yang diturunkan ke dalam hati Rasul-Nya. Hingga samapai saat ini pun tidak dijumpai al-Qur;an mengalami perubahan bahasa, itu karena Allah telah menjamin kesuciaan al-Qur’an. Dari keistimewaan ini, maka terdapat hal-hal sebagai berikut:
1.      Hal-hal yang diilhamkan Allah kepada Rasulullah tanpa menyebutkan lafadz-lafadznya , tetapi Rasulullah mengungkapkannya dengan bahsanya sendiri sesuai yang diilhamkan, tidak termasuk kategori al-Qur’an. Namun termasuk dalam kategori hadist, begitu pula dengan Hadist Qudsi yang merupakan cerita Allah kepada Rasulullah. Semua itu tidak menduduki derajat al-Qur;an, sehinggga tidak bisa dipakai sebagai bacaan shalat, dan membacanya pun tidak termasuk ibadah.
2.      Lafadz-lafadz Arab sebagai tafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya sama dan bisa memberikan arti sesuatu dengan lafadz aslinya juga tidak bisa disebut al-Qur’an, meskipun tafsiran itu sesuai dengan makna dalil yag ditafsiri. Hal ini dikarenakan bahwa al-Qur’an erdiri dari lafadz-lafadz Arab yang sangat khusus dan turun dari Allah SWT.
3.      Terjemahan surt atau ayat al-Qur’an ke dalam bahasa selain Arab juga tidak bisa disebtu al-Qur’an. Walapun hasil terjemahan tersebut dilakukan secara teliti dan sempurna sesuai makna yang diterjemahkan. Sebab, al-Qur’an terdiri dari lafadz-lafadz Arab yang khususdan diturunkan dari Allah SWT.

Kekhususan al-Qur’an lainnya ialah bahwa ia diriwayatkan secara mutawatir, maksudnya melalui cara periwayatan yang mendatangkan pengetahuan dan kepastian karena outentitas periwayatan.

B.     Kehujjahan dan Kemu’jizatan Al-qur’an.
Tidak dibenarkan seorang mujtahid menggunakan dalil lain sebagai hujjah sebelum meneliti ayat-ayat al-Qur’an. Pernyataan ini disepakati oleh seluruh ulama yang menyatakan al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam. Mengapa ulama nerpendapat demikian ?
Ulama beralasan bahwa kewajiban berhujjah kepada al-Qur’an dengan alasan sebagai berikut :
1.      Al-Qur;an diturunkan kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril dan diketahui secara mutawatir. Sehingga memberi keyakinan bahwa al-Qur’an benar-benar datng dari Allah.
2.      Ditemukannya beberapa ayat yang menyatakan bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah, diantaranya:
tA¨tR šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd|ÁãB $yJÏj9 tû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ tAtRr&ur sp1uöq­G9$# Ÿ@ÅgUM}$#ur ÇÌÈ  
Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,(Q.S Ali Imran : 3)

!$¯RÎ) !$uZø9tRr& y7øs9Î) |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3óstGÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# !$oÿÏ3 y71ur& ª!$# 4 Ÿwur `ä3s? tûüÏZͬ!$yù=Ïj9 $VJÅÁyz ÇÊÉÎÈ  
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.[3](Q.S an-Nisa’ : 105)

t.............4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ  
“...... dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”(Q.S an-Nahl : 89)
3.      Mu’jizat al-Qur’an bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi SAW yang membawa risalah Ilahi dengan suatu perbuatan yang di luar kebiasaan umat manusia. Kemu’jizatan al-Qur’an menurut para ahli Ushul Fiqh, akan terliahat jelas apabila :
a)      Adanya tantangan dari pihak manapun.
b)      Ada unsur-unsur yang menyebabkan munculnya tantangan tersebut, seperti tantangan orang kafir yang tidak percaya akan kebenaran al-Qur’an dan kerasulan Muhammad SAW, dan
c)      Tidak ada penghalang bagi munculnya tantangan tersebut.

Dari segi keindahan dan ketelitian redaksinya, upama berupa keseimbangan jumlah bilangan kata dengan lawannya. Seperti, al-hayah (hidup) dan al-maut (mati) dalam betuk definite sama-sam berjumlah 145 kali, al-kufr (kekufuran) dan iman (iman) sebanyak 17 kali.
Dari segi cerita yang terbukti kebenarannya. Di dalam surat Yunus, 10:92 diakatkan bahwa “badan Fir’aun akan diselamatkan Tuhan sebagai pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya”. Faktanya tahun 1896 ditemukan mummi yang menurut arkeolog adalah Fir’aun yang mengejar-ngjar Nabi Musa.
Sebelum manusia mengetahui bahwa cahaya dari bulan merupakan pantulaan, al-Qur’an jauh 14 abad yang lalu teah mengetahuinya. Di surat Yunus 10:5 dikatakan. “cahay matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahay bulan adalah pantulan (dari cahay matahari)”.

C.    Macam-macam Hukum Al-Qur’an.
Para ulama Ushul Fiqh menginduksi hukum-hukum yang dikandung al-Qur’an terdiri atas:
1.      Hukum-hukum i’tiqad, yaitu hukum yang mengandung kewajiban para mukallaf untuk mempercayai keenam rukun iman.
2.      Hukum-hukum yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Penciptanya dan antara sesama manusia. Hukum-hukum praktis ini dibagi menjadi:
a)    Hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, nazar, dan sumpah.
b)Hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah.
§  Hukum-hukum perorangan seperti perkawinan, talak, waris, wasiat, wakaf,dan
§  Hukum-hukum perdata, seperti jual-beli, pinjam-meminjam dan lan-lain.
c)    Hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah pidana.
d)     Hukum-hukum yang berkaitan dengan peradilan,
e)    Hukum-hukum yang berkaitan dengan ketatanegaraan.
f)    Hukum-hukum yang berkaitan dengan hubungan antarnegara, dan
g)Hukum-hukum yang berkaitan dengan ekonomi, baik bersifat pribadi, masyrakat, maupun negara.
D.    Ayat-ayat Qath’i dan Zhanni.
Dari segi dalalahnya terhadap hukum-hukum yang dikandungnya, maka ia terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1.      Nash yang qath’i dalalahnya terhadap hukumnya.
2.      Nash yang zhanni terhadap hukumnya.
Adapun nash yang qth’i dalalahnya ialah : nash yang menunjukkan kepada makan yang pemahaman makna itu dari nash tersebut telah tertentu dan tidak mengandung takwil serta tidak ada peluang untuk memahami makna lainnya nash itu.
Contoh ayat qath’i dalalah adalah dalam bab berzina, sebagaimana firman Allah :
èpuÏR#¨9$# ÎT#¨9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera,....”
Ayat ini menunjukkan secara pasti bahwa hadd orang yang berzina adalah seratus deraan, tidak lebih dan tidak kurang. Sedangkan nash yang zhanni dalalahnya ialah : nash yang menunjukkan atas satu makana, akan teapi masih memungkinkan untuk ditakwilkan atau dipalingkan dari makna lainnya dimasukkan darinya. Misalnya adalah firman Allah SWT :
àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr'Î/ spsW»n=rO &äÿrãè%
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[4]........”
Lafadz quru’ dalam bahasa Arab merupakan makna musytarak antara dua makna. Ia diartikan “suci” dan menurut bahasa juga diartikan “haid”. Nash menunjukkan bahwa wanita-wanita ang ditalak hendaklah menahan diri selama tiga kali quru’. Oleh karena itu ada kemungkinan tiga kali suci atau tiga kali haid.




As-Sunnah
A.    Definisi As-Sunnah.
Secara etimologis Sunnah berarti “jalan yng dilalui” atau “cara yang senantiasa dilakukan”. Sedangkan secara syara’ adalah “sesuatu yang datang dari Rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun pengakuan”.
Secara terinologi, Sunnah bisa dilihat dari tiga bidang ilmu, yaitu dari ilmu hadits, ilmu fiqh dan ushul fiqh. Menurut ahli hadis, Sunnah identik dengan hadits. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh adalah “segala yang diriwayatkan dari Nabi SAW, berupa perkataaan, perbuatan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum.
Sunnah menurut ahli fiqh, disamping pengertian yang dikemukakan para ulama ushul fiqh diatas, juga dimaksudkan sebagai salah satu hukum taklifi,yang mengandung pengertian “perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa.
Berdasarkan definisi diatas, para ahli ushul fiqh membagi Sunnah sebanyak tiga macam :
1.      Sunnah Fi’liyyah, yaitu perbuatan yang dilakukan Nabi SAW yang dilihat atau diketahui dan disampaikan kepada orang lain. Misalnya, tata cara shalat yang ditunjukkan Rasulullah SAW, kemudian disampaikan sahabat yang melihat atau mengetahuinya kepada orang lain.
2.      Sunnah Qauliyyah, yaitu ucapan Nabi SAW yang didengar dan disampaikan seseorang atau ebebrapa sahabat kepada orang lain, misalnya sabda Rasulullah yang diriwayatkan Abu Hurairah :
Tidak sah shalat yang tidak membaca surat al-Fatihah (H.R Bukhari dan Muslim).
3.      Sunnah Taqririyah ialah : sesuatu yang timbul dari sahabat yang telah diakui oleh Rasulullah SAW, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Pengakuan tersebut adakalanya dengan sikap diamnya dan tidak adanya keingkaran beliau, atau dengan adanya persetujuan dan penrnyataan penialaian baik terhadap sikap ini.
B.     Kehujjahan As-Sunnah Serta Hubungannya dengan Al-Qur’an.
Semua uamat islam telah mensepakati bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah, baik ucapan, perbuatan atau taqrir, membentuk suatu hukum atau tuntunan yang disampaikan kepada kita dengan sanad shahih dan mendatangkan qath’i atau zhanni. As-Snnah sendir berfungsi untuk memperjelas makna yang terkandung didalam al-Qur’an. Dengan kata lain, hukum-hukum yang ada pada Sunnah  adalah hukum-hukum yang ada pada al-Qur’an.
Bukti atas kehujjahan as-Sunnah dapat dibuktikan sebagai berikut:
Pertama: nash-nash al-Qur’an. Allah dalam beberapa ayat telah memerintahkan untuk metaati Rasul-Nya dan menjadikan ketaatan kepada Rasul-Nya sebagai suatu ketaatan kepada Allah, juga memerintahkan kaum muslimin utnuk megembalikan semua kepada Allah dan Rasul-Nya apabila terdapat pertentangan. Sebagimana firman Allah :
ö@è% (#qãèÏÛr& ©!$# š^qߧ9$#ur ( ........
Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya...”
`¨B ÆìÏÜムtAqߧ9$# ôs)sù tí$sÛr& ©!$# ( .........
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.

Kedua: Ijma’ para sahabat, baik pada masa hidup Rasulullah SAW maupun sesudah wafatnya, terhadap kewajiban mengikuti sunnahnya. Pada masa hidup Nabi, mereka melaksanakan hkumhukumnya dan menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganya.
Ketiga: di dalam al-Qur’an, Allah SWt telah mewajibkan kepada umat manusia untuk melaksanakan ibadah fardu dengan lafadz ‘am tanpa penjelasan secara detail, baik hukum atau cara melaksanakannya. Seperti firman Allah:
(#qßJŠÏ%r&ur..... no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¢9$# .........
“.......dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!.......”
Namun demikian, Allah tidak memberikan penjelasan tentang cara shalat atau menunaikan zakat, puasa atau haji. Keumuman tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dengan sunnah al-Qauliyyah ataupun al-Amliyah.
Kehujjahan as-Sunnah diatas juga memberikan indikasi bahwa terdapat hubungan harmonis dengan al-Qur’an. Maka posisi as-Sunnah sebagi pengiring atau sebagai urutan kedua setelah al-Qur’an, yakni sebagai rujukan mujtahid dalam menentukan hukum jika memang tidak terdapat di dalam al-Qur’an.
Fungsi as-Sunnah yang menunjukkan hubunganya dengan al-Qur’an :
1.       Berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam al-Quran. Dengan demikian hukum tersebut terdapat di dua sumber dan mempunyai dua dalil.
2.       Berfungsi sebagai penafsir dan perinci hal-hal yang disebut secar mujmal di dalam al-Qur’an, atau memberikan taqyid terhadap hal-hal terdapat di dalam al-Qur’an secara muthlaq, atau memberikan takhshish (pengecualian) terhadapa ayat-ayat al-Qur’an yang ‘am.
3.       Sebagai pembentuk hukum atau penetap hukum yang tidak terdapat di dalam al-Qur’an.

C.    Pembagian As-Sunnah Berdasarkan Sanad.
As-Sunnah ditinjau dari perawi-perawinya dari Rasulullah SAW, dibagi tiga macam, yaitu:
1.      Sunnah Mutawatirah, sunnah yang diriwayatkan oleh sekelompok orang (rawi) yang biasanya rawi-rawi itu tidak mungkin mengadakan sekutu untuk melakukan kebohongan. Hal tersebut karena jumlah mereka banyak, jujur dan berbeda lingkungannya. Kemudian dari mereka diceritakan kepada orang lain hingga sunnah tersebut bisa sampai kepada kita dengan sanad kelompok rawi dari masing-masing tingkatan yang tidak perna melakukan persekongkolan melakukan bohong sejak diterimanya dari Rasulullah.
2.      Sunnah Masyhurah, Sunnah yang diriwayatkan dari rasulullah SAW oleh seorang atau dua orang atau kelompok sahabat yangtidak mempunyai derajat atau tingkatan tawatur. Kemudian, beberapa rawi atau sekelompok dari kelompok-kelompok yang tawatur itu meriwayatkan hadits tersebut dari seorang rawi atau beberapa rawi. Dari kelompok ini, diriwayatkan oleh kelompok lain yang sepadan hingga kepada kita sanad bahwa kelompok pertama mendengar dari perkataan Rasulullah atau melihat perbuatan Rasulullah oleh seorang atau dua orang. Namun kelompok ini belum mencapai derajat matawatir, walaupun kelompok-kelompok itu sudah mencapai tingkat tawatur.
3.      Sunnah Ahad.
Sunnah yang diriwayatkan oleh kelompok yang tidka sampai kepada derajat tawatur, atau yang diriwayatkan oleh serang atau dua orang atau kelompok orang yang tidak mencapai derajat tawatur.
D.    Qath’i dan Zhanni-nya As-Sunnah.
Seperti halnya al-Qur’an, hadis pun demikian terdapat hadis yang qath’i dan zhanni. Sedangkan ukuran keqath’i dan ke zhania tidak ditinjau dari lafadznya melainkan dari sanad hadis tersebut.
Dari segi kedatangannya, maka sunnah mutawatiran merupakan sunnah yang pasti kedatangannya dari Rasulullah SAW. Karena kemutawatiran periwayatan menunjukkan kepastian mengenai kebenaran beritanya. Sedangkan sunnah masyhurah merupakan sunnah yang apsti datangnya dari shahabi atau sahabat yang menerimanya dari Rasulullah SAW. Akan tetapi sunnah ini tidak pasti datang dari Rasulullah SAW, karena orang yang pertama kali menerimanya dari beliau ukanlah kelompok perawi mutawatir. Oleh karena inilah, maka ulama hanafiyyah menjadikan sunnah masyhurah ini dalam hukum sunnah mutawatir. Jadi ia dapat mentakhsiskan keumuman al-Qur’an, membatsi kemutlakannya, karena sunnah ini dipastikan kedatangannya dari sahabat.
Sunnah ahad adalah sunnah zhannniyah datnganya dari Rasulullah, karena tidak menunjukkan kepastian di dalam sanadnya. Adapun dari segi dalalahnya (pengertiannya), maka setiap maka setiap sunnah dari beberapa bagian ini, maka kadangkala ada yang dalalahnya qath’i apabila nashnya tidak memungkinkan pentakwilan, dan ada kalanya dalalahnya zhanni apabila nashnya mengandung kemungkinan akwil.
E.     Perkataan dan Perbuatan Rasul Yang Tidak Termasuk Syari’at.
Sabda dan perbuatan yang keluar dari Rasulullah merupakan hujjah atas umat Islam. Kewajiban terhadap segala perbuatan rasulullah hanyalah apabila ia keluar saat dalam fungsinya sebagai Rasulullah dan hal itu dimaksudkan untuk membentuk hukum secara umum dan sebagai tuntunan.
Beberapa hal yang datng dari Rasulullah tapi tidak termasuk syri’ay:
1.      Segala hal yang keluar dari Rasulullah yang bersifat naluri kemanusiaan, seperti berdiri, duduk, berjalan, tidur, makan, minum adalah bukan syari’at. Karena hal ini bukanlah bersumber dari risalahnya.
2.      Apa-apa yang bersumber dari Rasulullah yang sifatnya pengetahuan manusia, misalnya kepintaran, dan percobaan tentang masalah dunia. Misalnya: sewa menyewa, pertanian, menagtur tentara, siasat perang atau cara pengobatan dan lain-lainnya.
3.      Hal-hal yang keluar dari Rasulullah SAW dan ada dalil yang menunjukkan itu adalah khusus bagi beliau dan bukan pula merupakan tuntunan, maka hal itu bukanlah hukum syari’at Islam secara umum. Sebagaimana beliau menikah dengan lebih dari empat orang istri.


Penutup
Kesimpulan
Al-Qur’an ditinjau secara garis besar masih bersifat universal, sehingga terjwmahan al-Qur’an meskipun sempura tidak dapat dikatakan sempurna, karena tidak ada yang mampu menandingi kalam Allah. Dan satu-satunya yang mampu sempurna dalam penerjemahannya adalah Nabi SAW.
Saat ini kita tidak mungkin untuk bertemu dengan Rasulullah, namun kita bisa memahami maksud al-Qur’an melalui Sunnah Beliau. Seperti pesan beliau ketika haji Wada’, bahwa beliau berpesan untuk selalu berpegang pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Pesan beliau ini memberi inidikasi bahwa dua aspek ini yang paling penting diantara yang lain.
Terbukti sekali dengan hubungan yang tak terpisahkan antara keduanya, dimana para ulama mengeluarkan pendapat berlandaskan dua sumber diatas.


Daftar Pustaka
Harun, Nasroen, Ushul Fiqh, Jakarta: Logos, 1996
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, Semarang: Dina Utama, 1994
Khallaf, Abdul Wahhab, Kaidah-kaidah Hukum Islam,cet II, Bandung: Risalah,
1985




    [1] Menurut Abdul Wahhab Khallaf, unt yang bersifat zhanni menurut sebagian ulama ushul fiqh, tidak dinamkan dalil, melainkan imarah (indikasi). Akan tetapi, mayoritas jumhur ulama Ushul Fiqh menyatakan bahwa petunjuk untuk mendapatkan hukum islam yang bersifat praktis itu, baik yang bersifat zhanni maupun yang bersifat qath’i, disebut dalil.
    [2] Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya
    [3] Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia Menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan mereka meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi, Kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi sendiri Hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.
    [4] Quru' dapat diartikan suci atau haidh

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM
Ditulis oleh Gustomo Try Budiharjo
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://segalanya90.blogspot.com/2012/10/al-quran-dan-as-sunnah-sebagai-sumber_7.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 komentar:

Gustomo Try Budiharjo mengatakan...

Mohon Komentarnya

Poskan Komentar

Live Streaming

Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Aku Ngeblog Maka Aku Ada.