LANDASAN ILMU: EPISTEMOLOGIS

Posted by Gustomo Try Budiharjo Minggu, 07 Oktober 2012 0 komentar

LANDASAN ILMU: EPISTEMOLOGIS



MAKALAH

Diajukan guna memenuhi tugas
Dalam mata kuliah Filsafat Ilmu

Disusun oleh:

GUSTOMO TRY BUDIHARJO
NIM: 09380088/ MU-A

Dosen:

Dra. Hj. Ermi Suhasti S. MSI



MUAMALAH
FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010 
Daftar Isi
·   Daftar Isi                                                                                    1
·   Pendahuluan                                                                              2
·   Pembahasan
1.  Apa itu Epistemologi                                                              3
2.  Bagian-bagian Epistemologi
A. Logika                                                                                 5
B. Pengetahuan                                                                       6
C. Ilmu                                                                                     7
D. Metode di Dalam Epistemologi                                          8
·   Penutup (Kesimpulan)                                                               9
·   Daftar pustaka                                                                           10




Pendahuluan
Dalam Filsafat Ilmu terdapat tiga landasan ilmu yakni Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Ketiga landasan ilmu tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Pasalnya banyak hal yang masih menjadi kerau-raguan di diri seseorang. Sehingga orang mulai bertanya-tanya dan mengharapkan jawaban yang benar. Tapi bagimankah cara mengetahui jawaban yang benar itu?
Berbagai cara telah dilakukan pada masa yunani kuno dalam rangka memperoleh ilmu dan kebenarannya. Mulai dari perenungan, pengalaman, eksperimen dan sebagainya.semua itu dilakukan hanya untuk mencari kepuasan terhadap gejala yang tampak. Sehingga pada akhirnya Filsafat berhasil mebawa peradaban manusia pada kemajuan.
Pada epistemologi lebih memfokuskan pada permasalahan cara mendapatkan ilmu. Sedangkan pada hakekat ilmu dan kegunaanya masuk dalam landasan Ontologi dan aksiologi. Oleh sebab itu makalah ini berusaha untuk menjabarkan secara rinci tetntang Epistemologi.
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan secara rinci landsan ilmu Epistemologi. Sebab Epitemologi tidak kalah pentingnya dengan kedua landasan lainnya. Sehingga diharapkan setiap orang bisa menghilangkan keragu-raguan dalam menjawab suatu fenomena.

Pembahasan
1.  Apa itu Epitemologi ?
Dalam studi Filsafat ditemukan istilah Epitemologi. Epistemologi adalah ilmu yang membahas ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan. Istilah Epistemologi diserap dari kata Yunani yang berarti studi atau penelitian tentang pengatahuan[1]. “Logika” juga dapat disebut sebagai cabang dari Epistemologi. Tugas utama Logika adalah menyelidiki sifat berpikir secara benar dan menggunakan akal yang sehat termasuk hukum-hukum pemikiran manusia.[2]
Epistemologi pada dasarnya bersifat reflektif.[3] Setiap anggapan umum dapat dijadikan pernyataan reflektif. Bila Epistemologi mampu mengusir keraguan, kita mungkin dapat menemukan kepastian reflektif yang pantas dianggap pengetahuan. Sejak semula, Epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit, Sebab Epistemologi  menjangkau permasalah seluas metafisika.  Selain itu, pengetahuan merupakan hal yang abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.
Secara historis gerakan pemikiran reflektif memuncukan masalah pengetahuan secara terpisah dapat ditelusiri secara analitis. Oleh karena itu walaupun setiap pengetahuan dapat diperoleh secara reflektif tetapi ada pengetahuan yang dapat dibuktikan secara analitis atau pun riset dalam pembuktiannya. Pembuktian secara analitis ataupun riset masuk kategori sains, sedangkan reflektif hanya sebatas anggapan umum (Common Sense). Secara garis besar Epistemologi merupakan cabang filsafat yang berusaha mencari kebenaran. Mencari jawaban dalam menjawab keragu-raguan. Meskipun kebenarannya bersifat relatif atau berdasarkan analitis.
Pada dasarnya kita boleh mengajukan pertanyaan kepada siapa saja. Misalnya, kita menanyakan alamat kepada seseorang.  Tetapi kita di beri arah yang salah (tetapi masih satu wilayah), meskipun kita disesatkan arah tapi toh masih tenang-tenang saja karena masih satu wilayah dan bisa dicari lagi. Bagaimana jika kita bertanya jalan menuju surga tetapi malah diberikan jalan menuju neraka?
Jadi hakikatnya setiap manusia mengharapakan jawaban yang benar, bukannya jawaban yang asal-asalan. Bagaimana menyusun pengetahuan yang benar? Masalah ini termasuk kajian Epistemologis dan landasannya metode ilmiah

2.  Bagian-bagian Epistemologi
A. Logika



Logika merupakan sub-bagian dalam studi Epistemologi. Dalam mempelajari Epistemologi tidak boleh mengabaikan logika, karena dasar pertanyaan dari Epistemologi ialah “bagaimana”. Logika disini berperan dalam menjawab sebuah gejala secara rasio atau nalar dengan membuat formalisasi. contohnya[4]
Hukum logika merupakan dasar teori yang sudah diketahui selama ribuan tahun. Bila implikasi B (disebut consequens juga) dari hipotesis B (disebut antecendens juga) maka belum tentu bahwa A (yang lebih umum dari pada B) itu benar, tetapi bila hanya satu kali saja implikasi A tidak terjadi, maka A telah dibuktikan salah.
Menurut Karl Raimund Popper, semua hukum itu alam, malahan segala teori ilmu alam pun, tidak pernah dapat mencapai lain kedudukan dari hipotesis, yaitu percobaan saja dan selama usaha agar hipotesis-hipotesis yang bersangkutan dibuktikan salah dapat terjadi, selama itu pula ilmu alam berkembang dan disempurnakan.[5] Popper berpendapat demikian karena, suatu hipotesis bila terbukti salah, maka harus ditinggalkan dan diganti dengan hipotesis yang baru. Kedua jika salah satu usur hipotesis ternyata dibuktikan salah, maka unsur tersebut ditinggalkan dengan mempertahankan inti hipotesis untuk disempurnakan. Terakhir sebuah hipotesis masih bertahan sebelum dapat dibuktikan salah.
B.   Pengetahuan
Banyak pihak yang menyatakan bahwa hanya jenis pengetahuan tertentu yang benar-benar layak disebut pengetahuan. Hal yang demikian dilakukan Bertrand Russel ketika mengkhususkan kata ini hanya untuk pengetahuan sains, sedangkan yang lain dianggap mendekati ilmiah.[6]
Meskipun pernyataan Russel ini terdengar masuk akal, namun bertentangan dengan maksud Epistemologis, sebab Russel mengambil keputusan dengan meyakini keunggulan sains diatas pengetahuan yang lain. Sebaliknya, filsafat pengetahuan adalah keterbukan macam-macam makna “pengetahuan”. Membuka setiap kemungkinan serta setiap cara-cara memperoleh pengetahuan disebut “pengetahuan”.
Setidaknya segala peradaban di dunia ini ada karena pengetahuan, baik itu pengetahuan tentang alam, atau pun perenungan. Para filsuf terdahulu megawali filsafat melalui perenungan untuk mencari hakikat kebenaran, di masa itu kebenaran masih bersifat relatif (individu). Banyak cara dalam memperoleh pengetahuan, baik dengan pemikiran Rasionalisme, Empirisme, Strukturalisme, dan lain-lain. Selain bentuk pemikiran, terdapat pula pola[7] dalam menjelaskan hasil berpikir sesuai gejala yang timbul.

C.   Ilmu
 Dalam ilmu, orang berusaha mematangkan pengetahuan dengan memenuhi tolak ukur yang sesuai. Hal ini merupak sebuah cara dalam merumuskan tujuan penyelidikan ilmiah. Dalam memperoleh ilmu hendaknya tahu terlebih dari dahulu. Hal ini dikarenakan ilmu muncul akibat keragu-raguan yang dipikir secara reflektif. Pemikiran secara reflektif ini disebut pengetahuan yang dapat berubah menjadi ilmu jika dilakukan penyelidikan atau pembuktian secara ilmiah. Contohnya dalam tata surya, orang terdahulu menganggap matahari mengelilingi bumi, pernyataan seperti ini disebut pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman. Pernyataan diatas masih memdapatkan pertimbangan karena belum terbukti secara ilmiah,  ketika kenyataannya berbeda dan dapat dibuktikan secara ilmiah bisa disebut sebagai pengetahuan dan ilmu. Dalam studi ilmiah disebut Ilmu  Astronomi.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah merupakan sekumpulan pegetahuan yang disusun secara konsisten serta teruji kebenarannya secara empiris dalam  menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia untuk melakukan tindakan dalam menguasai gejala tersebut sesuai penjelasan yang ada.
Dengan definisi demikian, maka akan timbul pertanyaan? Apakah pengetahuan yang teruji secara ilmiah namun tidak bisa dijadikan sebuah ketetapan dapat dikatakan ilmu? Ilmu menurut pengertian secara umum ialah semua pengetahuan yang dapat diuji kebenarannya serta pasti. Bagaimana dengan sejarah? Apakah itu termasuk dalam golongan ilmu atau humaniora? Hal seperti sejarah sulit sekali dicari kebenarannya, sebab penggunaan data sejarah sering kali merupakan penuturan orang, bisa saja orang itu berbohong.
3.  Metode di Dalam Epistemologi
a)  Humanisme.
Cara menggunakan pemikiran manusia itu sendiri sehingga ia mampu mengatur dirinya sendiri. Beberapa objeknya adalah sejarah, mitos, wahyu, dan sebagainya. Ilmu diperoleh secara subyektif dan segalanya tanpa melalui proses uji coba.
b) Metode Ilmiah (LHV).
LHV adalah Logika Hipotesa Verifikasi. Dalam metode ini sudah mengalami sebuah struktur yang teratur. Cara untuk memperoleh ilmu menurut metode ini menggunkan langkah sebagai berikut. Pertama menjawab suatu gejala secara logika, setelah itu logika diajukan agar menjadi Hipotesa, kemudian diverifikasi (diuji kebenarannya).
c)  Metode Riset.
Metode ini perkembangan dimulai sejak masa Positivisme. Dimasa itu terjadi suatu kejadian yang membawa kemajuan dibidang iptek yakni Revolusi Inggris. Metode yang saat ini masih digunakan, menggunakan riset secara rinci dan teknis. Sehingga hasil yang didapatl lebih valid.
d)   Metode Penelitian Ilmiah
Metode penelitian ilmiah pada hakekatnya adalah untuk mencari, memperoleh, menemukan kebenaran ilmu pengetahuan baru. Kebenaran pengetahuan yang danya pada obyek masing-masing, juga ada hal yang mempengaruhi metode, yaitu teori kemampuan manusia untuk mencapai pengetahuan.[8]

Penutup
Kesimpulan

Epistemologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang berguna dalam mencari jawaban dari suatu gejala yang muncul. Akan tetapi jawabannya masih bersifat sementara karena secara umum masih hasil berpikir secara reflektif. Sebagai sebuah landasan ilmu, Epistemologi berperan dalam munculnya pengetahuan-pengetahuan yang selanjutnya dilakukan eksperimen untuk di spesifikasikan mana yang masuk kategori ilmu.
Epistemologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa logika, sebab alat pertama dalam menjawab suatu gejala adalah logika. Pertama logika bersifat kemungkinan, kedua bersifat peluang, sedangkan pembuktiannya menggunakan eksperimen.

Daftar pustaka

Hadi, Hardono, Epistemologi Filasafat Pengetahuan, Yogyakarta:
Kanisius, 1994
Dirdjosisworo, Soedjono, Pengantar Epistemologi dan Logika, Bandung:
Remaja Karya, 1985
Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1987

Peursen, Van dan Berling K.M, Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa
Soedjono Soemargono,cet IV,Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1997
Sudarminta, Filsafat Proses, Yogyakarta: Kanisius, 1991
Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1996


    [1] Filsafat manusia dipandag sebagai imduk ilmu pengetahuan sari berbagai disiplin, dalam lingkup studi
filsafat ditemukan cabang penting, yakni Epistemologi, yang secara khusus mengupas ilmu pengetahuan.
    [2] DR. Soedjono Dirdjosisworo, S.H, Pengantar Epistemologi dan Logika, cetakan I, Bandung : Remadja
Karya CV, 1985 hal 1.
    [3] Perenungan Dalam filsafat proses pencarian kebenaran dilakukan dengan perenungan guna mendapakan pengetahuan yang berawal dari rasa keragu-raguan.

    [4] DR. Seodjono Dirdjosisworo, op.cit hal 11
    [5] Ibid, hal 12
    [6] Dr. P. Hardono Hadi, Epitemologi Filsafat Pengatahuan. Hal 23
    [7] Lih, Metode di Dalam Epistemologi, hal 7
    [8] Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: PT. Raja Grafindo,1996, baca hal 91-93

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: LANDASAN ILMU: EPISTEMOLOGIS
Ditulis oleh Gustomo Try Budiharjo
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://segalanya90.blogspot.com/2012/10/landasan-ilmu-epistemologis.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Live Streaming

Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Aku Ngeblog Maka Aku Ada.